cialis fiyat
escort girl service

TAHUN BARU HIJRIYAH : Sebuah Cerita, Sebuah Renungan

renungan

Tepatnya tanggal 1 Muharram, umat islam diseluruh dunia sudah memasuki masa tahun baru Hijriyah ke 1435. Terlepas dari kemeriahan dalam penyambutannya, alangkah baiknya jika momentum tahun baru ini disikapi oleh umat muslim dengan mengambil maknanya agar makna dari tahun baru hijriyah ini tidak hilang begitu saja. Tahun baru merupakan suatu jembatan untuk umat muslim hijrah menuju pribadi yang lebih baik dengan melakukan introspeksi diri selama satu tahun yang lalu dan memotivasi untuk perubahan diri yang lebih baik.

Perubahan-perubahan yang terjadi, tentunya tidak lepas dari ajaran-ajaran Al Qur’an dan As Sunnah yang memerintahkan umat muslim agar terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan melakukan amalan-amalan shaleh dan muhasabah untuk mengevaluasi diri atas apa yang sudah dilakukannya.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, Rasulullah SAW mengatakan,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ

“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab & berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” [HR. Tirmidzi].

Evaluasi diri ini erat kaitannya dengan tahun baru hijriyah yang jatuh pada 1 Muharram, dimana diharapkan umat muslim mampu bermuhasabah diri dengan sebaik-baiknya agar dapat “hijrah” menuju titik-titik kebaikan yang diridhoi Allah SWT.

Sejarah Dan Makna Hijrah

Satu Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Islam yang menandai pergantian tahun Hijriah. Momen ini menjadi penting karena Nabi Muhammad mendapatkan keberhasilan dalam dakwahnya pada bulan Muharram.

Muharram berasal dari kata yang dalam Bahasa Indonesia artinya diharamkan atau dipantang yaitu dilarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Makna tersebut menandakan bahwa Bulan Muharram akan menjadi bulan yang damai bagi seluruh umat.

Tahun baru Islam merupakan sarana untuk memperkokoh ukhuwah Islamiah (persaudaraan) sehingga dapat menghindari perpecahan dan perbedaan pemahaman sesama umat muslim. Kedatangan bulan Muharram juga menandai kebahagiaan bagi kaum dhuafa. Pada bulan ini umat muslim disunnah kan untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni anak yatim.

Nabi Muhammad yang melakukan hijrah dari satu tempat ke tempat lain yakni dari Mekkah ke Madinah dalam menyebarkan kebaikan menjadikan momen ini titik balik umat muslim untuk selalu berhijrah kepada kebaikan.
Pada ayat yang lain Allah tegaskan bahwa orang yang berhijrah itulah orang yang terbukti benar keimanannya.

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُولَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal [8]: 74).

Maka dari itu, mereka yang berhijrah di jalan Allah adalah orang yang tinggi derajatnya dan termasuk orang yang mendapat kemenangan besar.

الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah [9]: 20).

Satu Muharram hendaknya tidak diperingati seperti tahun baru masehi yang banyak berpesta. Melainkan diperingati dengan kegiatan yang mengedukasi masalah agama, membangun diri menjadi lebih baik, serta berbagi pada sesama.

Orang-orang Madinah dahulu pernah merayakannya sebelum kedatangan Rasulullah. Ketika Nabi datang ke Madinah beliau mendapati mereka bersenang–senang merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah’, maka Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ
بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. [Shahih, HR Abu Dawud disahihkan oleh asy syaikh al Albani]
Firman Allah SWT dalam surah al-Furqan ayat 72, yang artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Maka dari itu sudah seharusnyalah kita sebagai umat islam tidak ikut merayakan tahun baru hijriyah sama seperti halnya merayakan tahun baru masehi yang berlebihan, tetapi menjadikan momentum ini untuk merangkai agenda perubahan diri dengan semangat hijrah untuk menjadi yang lebih baik. Allah tidak akan pernah merubah suatu kaum (termasuk pribadi kita) jika kita sendiri tidak mau merubahnya (QS. 13: 11).

Trifani Gamais FKM

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>