cialis fiyat
escort girl service

Kenapa Kita Harus Berkurban ?

A917289A8AAD24396AC824359B5F2

Assalamu’alaikum…..

Saat Hari Idul Adha tak lengkap rasanya tanpa menyembelih hewan kurban. Beberapa lembaga mulai berlomba-lomba mengumpulkan hewan kurban untuk disembelih saat hari raya tersebut. Sapi, kambing maupun hewan kurban lainnya dikumpulkan oleh lembaga-lembaga zakat, masjid maupun sekolah dengan berbagai cara pengelolaannya. Akan tetapi perlu diperhatikan sobat Gamais sudahkah kita tahu makna dari berkurban? Atau hanya sekedar perayaan rutinitas biasa yang diadakan tahunan?

Nah, kita dapat belajar nih sama kisah seorang remaja yang sedang mencari apa sebenarnya makna dari berkurban itu dan sebenarnya kenapa kita harus berkurban?. Kisah dimulai saat seorang remaja bernama Cecep bertemu dengan seorang pedagang hewan bernama Pak Sholeh.

Cecep              : “Kenapa kita harus berkurban?”

Pak Sholeh      : “Harus? Bukannya kalau mampu?”

Cecep              : “Iya kalau mampu, kenapa kita harus berkurban?”

Pak Sholeh      : “Saya bukan guru agama, tidak mengerti agama, tapi menurut saya itu  simbol.”

Cecep              : “Simbol?”

Pak Sholeh      : “Iya. Coba pikirkan mengapa perintah berkurban itu dengan hewan, bukan tumbuh-tumbuhan atau benda lainnya. Hewan, ada naluri hewan dalam diri kita. Hewan kan tahunya makan, minum, tidur dan main seks. Itu naluri dasar manusia. Perintah berkurban itu maksudnya untuk melembutkan hati kita sebagai manusia, agar jangan terlalu menuruti naluri hewan yang bersemayam dalam diri kita.”

Cecep              : “Bisa lebih dijelaskan?”

Pak Sholeh      : “Makan, minum, tidur dan main seks adalah kenikmatan duniawi. Kita diminta untuk menyembelih hewan untuk kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berhak. Itu juga mengandung maksud, secukupnya saja mengejar kenikmatan duniawi itu, lebihnya berikan kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita. Dengan hati yang lembut, kita bisa menyelami perasaan orang-orang yang keadaannya berada di bawah kita. Kita yang berada di atas sudah seharusnya menarik tangan mereka yang di bawah agar bisa berdiri sejajar sebagai satu saudara. Kalau nilai-nilai dari perintah berkurban ini dihayati betul, tidak akan ada itu kesenjangan sosial yang terlalu timpang.”

Cecep              : “Tadi Pak Soleh bilang secukupnya saja mengejar kenikmatan duniawi. Cukup itu kan relatif? Cukupnya seorang presiden dengan cukupnya tukang becak mungkin berbeda. Nah, bagaimana ini?”

Pak Sholeh      : “Ada ungkapan makanlah sebelum lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang. Itulah cukup. Yang mengukur siapa? Ya diri kita masing-masing. Kalau mengukur cukupnya orang lain ya tidak selesai-selesai nanti. Misalnya saya satu mobil saja tidak punya, terus melihat orang lain punya 11 mobil mewah. Apa saya harus ngamuk. Apa saya harus cemburu, iri dengki, terus memakinya sebagai tidak tahu diri, kok tidak cukup-cukup. Kalau seperti itu, yang ada badan dan pikiran saya sendiri yang habis, ngenes. Kita sendiri lah jaga diri kita masing-masing.”

Cecep              : “Jadi, ini kembali ke urusan bagaimana memenej keinginan, kebutuhan dan kemampuan?”

Pak Sholeh      : “Bagaimana memampukan diri untuk mengendalikan keinginan-keinginan yang ada di dalam hati kita. Kalau kita hidup sesuai kebutuhan, itu sudah mendekati cukup. Kenapa mendekati, karena kebutuhan itu sendiri bisa relatif juga pemaknaannya bagi setiap orang. Sedangkan kalau bicara keinginan, itu tidak akan ada habisnya. Kalau saya mau jujur, ada lho keinginan punya istri lebih dari satu. Ada keinginan memiliki rumah megah. Ada keinginan memiliki mobil mewah. Ada keinginan setiap hari menikmati makanan yang lezat. Saya menyadari adanya keinginan-keinginan itu. Tapi, apakah setiap keinginan itu saya turuti, kan tidak. Ini bukan semata soal kaya atau miskin. Ada saja orang miskin materi tapi istrinya ada dimana-mana, atau kawin cerai lebih dari tiga kali. Tapi kan saya tidak berhak menilai diri saya sendiri lebih baik dari yang seperti itu. Yang saya bisa katakan, ini adalah soal pendidikan mental. Bagaimana kita mendidik mental kita untuk tidak tenggelam dalam kesenangan-kesenangan duniawi. Perintah kurban itu maksudnya untuk mendidik kita menjadi orang yang ikhlas, bahwa Tuhan lah satu-satunya tempat untuk menggantungkan kebahagiaan. Agar kita tidak mengganti sosok Tuhan itu dengan berhala yang lain, apakah berhala itu berbentuk manusia, rumah, mobil, uang, makanan, pakaian, gadget, pekerjaan, kepandaian atau apa saja yang membuat kita menomorduakan Tuhan.”

Cecep              : “Kalau membaca sejarah kurban, Nabi Ibrahim diminta menyembelih Ismail, anaknya sendiri?”

Pak Sholeh      : “Apalagi kalau bercermin pada sejarah itu. Ibrahim itu sangat mencintai Ismail. Lama sekali kan ia mendambakan seorang anak. Begitu diberikan anak, eh diminta disembelih, apa tidak berat coba. Saya tidak sanggup membayangkannya. Ibrahim mengorbankan seseorang yang paling dicintainya. Tapi Ibrahim tidak langsung melakukan begitu saja. Ia menceritakan mimpinya pada Ismail, bertanya apakah Ismail mau dikorbankan, dan Ismail mau. Mereka berdua contoh orang-orang yang sabar dan ikhlas. Atas kesabaran dan keikhlasannya itu, Tuhan mengganti Ismail dengan domba. Ending-nya, Ibrahim dan Ismail tetap bersatu dan tetap hidup. Saya pikir itu juga simbol. Kitab suci itu karya sastra dari Sang Maha Pujangga. Kitab suci itu meminta kita untuk berpikir. Kalau ditelan mentah-mentah, tanpa dicerna lebih dulu, bisa saja akibatnya fatal. Jangan sampai kejadian misalnya ayah membunuh anaknya karena terinspirasi kisah Ibrahim. Amit-amit jabang bayi.”

Cecep              : “Sepertinya Anda paham betul?”

Pak Sholeh      : “Jangan percaya saya. Siapalah saya ini, baru bisa omong doang. Percayalah pada suara hatimu sendiri. Usiamu sudah lebih dari 18 tahun, saya anggap kamu sudah dewasa, sudah bisa berpikir.”

Cecep              : “Sapi dan kambingnya besar-besar ya, sehat betul tampaknya.”

Pak Sholeh      : “Itu yang diikat di pojokan itu sudah dipesan orang. Nanti sore akan diambil.”

Cecep              : “Iya, semoga hewan kurban ini nanti terjual semuanya. Oh ya, satu pertanyaan lagi, apakah arti kebahagiaan bagi Pak Soleh?”

Pak Sholeh      : “Kebahagiaan adalah kebebasan. Ketika saya bisa melepaskan diri dari kemelekatan keindahan indrawi fisik, itu secara batin saya benar-benar merasakan kebebasan, dan itu sungguh membahagiakan. Ringan sekali rasanya hidup ini.”

            Gimana sobat Gamais semoga kisah di atas dapat memberi penjelasan dan menambah pengetahuan sobat Gamais tentang makna dari berkurban. Sehingga kita tidak lagi melewati Hari Raya Idul Adha yang kaya akan pesan moral dengan biasa-biasa saja. Oke, udah dulu ya sobat bertemu lagi dalam edisi berikutnya.

Wassalamu’alaikum……

Inspirasi : arimbibimoseno.com dengan beberapa perubahan.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>